Menurut WHO (World Health Organization), terdapat 285 juta orang di seluruh dunia yang mengalami gangguan penglihatan. Sebanyak 246 juta orang diantaranya mengalami low vision. Definisi low vision menurut WHO adalah seseorang yang setelah mendapat intervensi medis, pembedahan dan/atau optik, memiliki koreksi ketajaman penglihatan pada mata terbaik < 6/18 hingga persepsi cahaya, namun masih memiliki potensi untuk menggunakan penglihatan tersebut untuk beraktivitas sehari-hari.
Low vision ditujukan pada orang dengan gangguan penglihatan permanen yang tidak dapat diperbaiki dengan kacamata biasa, lensa kontak, obat, atau pembedahan.
Banyak penyakit mata yang dapat menyebabkan low vision. Penyakit-penyakit tersebut antara lain:
- Gangguan retina (retinopati diabetik, chorioretinitis toxoplasma, retinitis pigmentosa, Age Macular Degeneration, atrofi makula karena miopia tinggi, herediter retinopati)
- Glaukoma
- Katarak juvenile
- Kelainan segmen anterior
- Amblyopia
- Kelainan otak (stroke, hidrosefalus, cerebral palsy, epilepsi, tumor)
- Uveitis
Anak-anak dengan gangguan penglihatan bawaan, remaja atau dewasa dengan penyakit mata kronis, dan lansia dengan penurunan penglihatan permanen beresiko untuk mengalami kondisi low vision.
Kabar baiknya, low vision bukan berarti kebutaan total masih ada sebagian penglihatan yang tersisa. Layanan rehabilitasi penglihatan membantu seseorang dengan low vision memaksimalkan potensi yang dimiliki.
Perawatan untuk low vision disebut dengan rehabilitasi penglihatan. Tujuan perawatan ini adalah untuk meningkatkan kualitas hidup dan kemandirian seseorang dengan low vision. Penggunaan alat bantu optik dan non optik serta dukungan dari lingkungan dibutuhkan agar dapat memudahkan seseorang dengan low vision melakukan aktivitas dan mobilisasi. Penggunaan alat bantu diharapkan juga dapat mengoptimalkan seseorang dengan low vision dalam menempuh pendidikan maupun melakukan pekerjaan adaptif.