Setiap tanggal 17 Mei, dunia memperingati Hari Hipertensi Sedunia (World Hypertension Day) . Di tahun 2026 ini, tema yang diusung oleh World Hypertension League adalah “Mengontrol Hipertensi Bersama-sama” (Controlling Hypertension Together) , dengan ajakan utama untuk rutin memeriksa tekanan darah guna mengalahkan “kondisi silent killer” ini.
Saat kita membahas tekanan darah tinggi di seluruh tubuh, jarang yang menyadari bahwa “tekanan tinggi” juga bisa menjadi ancaman sunyi di dalam bola mata kita. Kondisi ini dikenal dalam dunia medis sebagai Hipertensi Okuli.
Apa Itu Hipertensi Okuli?
Hipertensi okuli adalah kondisi medis di mana tekanan di dalam mata (intraocular pressure/IOP) berada di atas batas normal, yaitu di atas 21 mmHg, namun belum menunjukkan adanya kerusakan pada saraf optik atau penyempitan lapang pandang.
Bola mata kita terus-menerus memproduksi cairan bening yang disebut aqueous humor. Dalam keadaan normal, cairan ini mengalir keluar melalui sistem drainase yang kompleks. Pada hipertensi okuli, saluran drainase ini tidak berfungsi optimal, sehingga terjadi penumpukan cairan dan peningkatan tekanan.
Penting untuk dipahami bahwa hipertensi okuli berbeda dengan glaukoma. Glaukoma adalah kondisi di mana tekanan tinggi sudah menyebabkan kerusakan saraf mata. Namun, hipertensi okuli adalah faktor risiko terbesar untuk berkembangnya glaukoma di kemudian hari.
“Si Pembunuh Penglihatan Diam-Diam”
Sama seperti hipertensi sistemik yang dijuluki "silent killer", hipertensi okuli juga hampir tidak pernah menimbulkan gejala awal. Penderitanya biasanya tidak merasakan sakit, penglihatan kabur, atau tanda-tanda peringatan dini lainnya.
Inilah mengapa kondisi ini sangat berbahaya. Tanpa pemeriksaan rutin, seseorang bisa hidup dengan tekanan mata tinggi selama bertahun-tahun tanpa menyadarinya, hingga suatu saat tekanan tersebut merusak saraf optik secara perlahan dan menyebabkan kehilangan penglihatan permanen akibat glaukoma.
Keterkaitan dengan Hari Hipertensi Sedunia 2026
Tema tahun 2026, "Controlling Hypertension Together" , sangat relevan jika kita aplikasikan pada kesehatan mata. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tekanan darah tinggi sistemik (hipertensi) merupakan salah satu faktor risiko yang meningkatkan peluang seseorang mengalami hipertensi okuli . penelitian dari Studi Kohort Jepang (CiNii) Tahun 2025 dengan populasi 3.059 orang (8 tahun follow-up) temuan utama yaitu Peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik merupakan faktor risiko signifikan untuk hipertensi okuli insiden
Selain hipertensi, faktor risiko lainnya meliputi:
- Usia di atas 40 tahun.
- Riwayat keluarga dengan glaukoma atau hipertensi okuli.
- Diabetes melitus.
- Miopia (rabun jauh).
- Penggunaan obat steroid jangka panjang.
"Bersama-sama" mengajak kita untuk tidak hanya fokus pada tekanan darah di lengan, tetapi juga melakukan pendekatan holistik terhadap kesehatan pembuluh darah dan tekanan cairan di seluruh tubuh, termasuk mata.
Langkah Deteksi dan Pengobatan
Karena tidak bergejala, satu-satunya cara untuk mendiagnosis hipertensi okuli adalah melalui pemeriksaan mata komprehensif secara rutin.
Dokter mata akan melakukan:
- Tonometri: Mengukur tekanan di dalam mata.
- Pachymetry: Mengukur ketebalan kornea (karena kornea tipis bisa mempengaruhi akurasi pembacaan tekanan).
- Gonioskopi: Memeriksa sudut drainase mata.
- Optical Coherence Tomography (OCT): Memeriksa ketebalan serabut saraf optik sebagai data dasar.
Langkah Pencegahan Yang dapat di lakukan :
- Kontrol tekanan darah secara teratur
- Jalani Pemeriksaan mata rutin setiap 1-2 Tahun
- Terapkan Pola hidup sehat (diet seimbang, olahraga, hindari rokok)
- Batasi penggunaan Gadget dan istirahatkan mata secara berkala