Setiap tahun, Myopia Awareness Week (Pekan Kesadaran Miopia) menjadi momen penting bagi orang tua di seluruh dunia untuk memahami meningkatnya ancaman miopia—istilah medis untuk rabun jauh.
Jumlah penderita rabun dekat (miopia) terus meningkat di seluruh dunia. Para peneliti memperkirakan bahwa pada tahun 2050, hampir setengah dari populasi dunia—lebih dari 5 miliar orang pada saat itu akan menderita miopia.
Kacamata resep dan lensa kontak dapat membantu anak-anak dan remaja yang rabun jauh untuk melihat dengan jelas. Namun, dampak miopia tidak selalu berakhir di situ. Miopia berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit mata serius, seperti glaukoma, ablasi retina, dan degenerasi makula, yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan hingga kebutaan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, deteksi dan penanganan sejak dini sangat penting untuk mengurangi risiko tersebut.
Mengenal Miopia
Agar dapat melihat dengan jelas, cahaya yang masuk ke mata akan melewati kornea dan lensa di bagian depan mata. Keduanya berfungsi memfokuskan cahaya agar jatuh tepat pada retina di bagian belakang mata. Retina kemudian mengirimkan sinyal ke otak sehingga kita dapat melihat dengan jelas.
Gambar 1. Penglihatan mata miopia vs mata normal
Pada kondisi rabun jauh (miopia) cahaya justru jatuh di depan retina, bukan tepat di permukaannya. Hal ini bisa terjadi karena kornea terlalu cembung atau bola mata lebih panjang dari ukuran normal. Akibatnya, cahaya tidak mencapai retina dengan tepat, sehingga penglihatan menjadi kabur.
Gejala miopia pada anak sering kali tidak disadari, karena mereka mungkin menganggap penglihatannya normal. Namun, ada beberapa tanda yang perlu diperhatikan selain tanda dan gejala di atas, seperti:
- sering menyipitkan mata,
- sering menggosok mata,
- kesulitan melihat tulisan di papan tulis, rambu, atau objek yang jauh
- memegang benda terlalu dekat ke mata saat melihat,
- mudah kehilangan fokus atau cepat terdistraksi,
- mudah lelah setelah berkonsentrasi dalam waktu tertentu,
- mengalami kesulitan di sekolah, dan
- sakit kepala (meskipun jarang terjadi).
Bagaimana Mencegah Miopia?
Jika anak Anda mengalami miopia, atau Anda melihat tanda seperti sering menyipitkan mata dan memegang benda terlalu dekat ke wajah, sebaiknya segera periksakan ke dokter mata. Pemeriksaan ini penting untuk mendapatkan rencana perawatan yang sesuai dengan kondisi anak.


Gambar 2. Tips mencegah perkembangan miopia berdasarkan rekomendasi WHO
Selain itu, perubahan gaya hidup juga berperan dalam menjaga kesehatan mata. Menghabiskan waktu di luar ruangan terbukti dapat membantu melindungi dari timbulnya miopia, bahkan berpotensi memperlambat perkembangannya. Sebaliknya, penelitian menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan layar (baik perangkat digital maupun komputer) dengan meningkatnya risiko perkembangan miopia.
Meskipun miopia tidak dapat disembuhkan, terdapat berbagai pilihan perawatan yang efektif untuk memperlambat perkembangannya di masa pertumbuhan. Beberapa di antaranya meliputi lensa kontak ortokeratologi yang digunakan saat tidur, lensa kontak lunak untuk penggunaan sehari-hari, tetes mata atropin, serta lensa kacamata khusus. Pilihan ini dapat didiskusikan lebih lanjut dengan dokter mata sesuai kebutuhan anak. Karena itu, penting bagi orang tua untuk berkonsultasi dengan dokter mata sedini mungkin agar kondisi miopia pada anak tidak semakin bertambah parah.